Pages

Thursday, April 14, 2016

[EARLY BOOK REVIEW] Purple Eyes by Prisca Primasari

144 halaman
Penerbit Inari, 2016
Paperback Edition

"Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih."
-halaman 117


"Tidak ada salahnya memiliki harapan, baik ketika hidup maupun setelah mati."
-halaman 123

"Umur 22 tahun atau 200 tahun tidak ada bedanya. Kalau kau sudah meraih semua yang kau inginkan, yang tersisa bagimu hanyalah beristirahat dengan tenang. Dan menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kematian."
-halaman 124

SINOPSIS

Karena terkadang, 
tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun. 

------------------------------------------------------------------------------------

Purple Eyes berkisah mengenai Lyre dan Hades. Sesuai nama, Hades adalah seorang dewa kematian sementara Lyre adalah pelayannya. Tugas Hades dan Lyre adalah menyambut orang-orang yang telah meninggal di Bumi dan mengantarkan mereka pada ujian yang akan menentukan nasib mereka. Apakah mereka akan menuju ke alam lain dan benar-benar mati, atau bereinkarnasi dan kembali ke bumi. Semua itu ditentukan oleh seberapa besar keinginan mereka untuk hidup atau mati. 

Tugas semacam itu tentunya membuat Hades merasa bosan. Untungnya, kebosanan itu tidak berlangsung lama. Hades dan Lyre ditugaskan ke Bumi untuk memberantas pembunuh berantai yang berkeliaran di Trondheim, Norwegia. Lyre yang bersemangat menjalankan tugas itu pun menyiapkan segalanya, mulai dari pakaian hingga nama samaran untuknya dan Hades. Ia memilih nama Solveig sebagai nama samarannya, dan memilih nama Halstein sebagai nama samaran Hades. Ia hanya tidak tahu bahwa kasus ini akan menjadi kasus yang berbeda dari sebelum-sebelumnya karena kehadiran sosok Ivarr Amundsen...

Jujur saja, Love Theft adalah buku pertama Kak Prisca Primasari yang kubaca. Dan semenjak Love Theft, aku sudah tahu bahwa ada sesuatu yang berbeda dari tulisan-tulisan Kak Prisca. Jika aku diminta untuk mengibaratkan tulisan Kak Prisca, maka aku akan mengibaratkannya dengan pastel goth and fairytale, layaknya nama blog beliau.

Purple Eyes bernuansa sendu, lembut, manis, dan bagaikan dongeng. Aku selalu suka cerita dengan aura semacam ini. Halaman pertama Purple Eyes bahkan sudah berhasil menghipnotisku hingga tidak mampu berhenti membaca barang sedetikpun. Aku merasa hanya ingin duduk diam di atas kasur, dan terus membaca. Terbuai dalam dunia yang dikisahkan oleh Kak Prisca. 

This book is no joke. 

Aura-nya benar-benar menarikku ke dalam dunianya. Aku tidak pernah membaca buku karya penulis Indonesia dengan aura seperti ini. Buku semacam inilah yang kucari-cari selama ini. Buku dengan sedikit sentuhan 'magis', bukan karena unsur ceritanya namun karena buku itu sendiri meneriakkan kata 'magis'. Buku-buku semacam ini yang selalu berhasil meninggalkan kesan mendalam di benakku setelah aku selesai membacanya. 

Aku tidak tahu apa yang telah dilakukan oleh Kak Prisca, karena setiap kali aku membaca Purple Eyes, aku seakan kembali tersedot ke dalam dunianya. Walau baru satu paragraf yang kubaca ulang. 

Terlepas dari aura buku ini yang benar-benar menamparku (iya, serius rasanya kayak ditampar). Buku ini memiliki alur dan karakter-karakter yang menarik. 

Tentu saja karakter yang pertama kali menarik perhatianku tak lain dan tak bukan adalah Hades. Hades yang angkuh, dingin, tegas, namun... memiliki sisi lembut yang tidak dapat dilihat oleh kebanyakan orang. Kasihan sekali Hades, selama ini selalu dianggap dewa yang jahat oleh para manusia, termasuk aku. :( haha. 

Lalu karakter Lyre sendiri yang menarik dengan kebiasaan-kebiasaan kunonya. Serta Ivarr. Ivarr ini... adalah 'spesies' yang spesial. Awal membaca dan melihat kemunculannya, ia benar-benar jauh dari radar 'karakter favorit'ku. Ia terasa datar, dan tidak menarik. Apa sih yang menarik dari sebongkah patung lilin? 

Tapi seiring berjalannya cerita, aku tanpa sadar telah dibuat jatuh cinta dengan Ivarr. Dan alasan yang membuatku jatuh cinta kepada Ivarr adalah 'kesenduan' yang dimiliki olehnya. Iya, jadi Ivarr ini melankolis banget ceritanya. :D Tapi, kesenduannya itu sungguh attractive. Kerumitan perasaan Ivarr membuatku tertarik dan penasaran... Lalu, rasa penasaran selalu berubah menjadi 'cinta', bukan? 

Jika ada satu hal yang aku sayangkan dari buku ini, itu adalah kurang tergalinya misteri yang ada di dalamnya. Aku rasa akan jauh lebih menarik seandainya novel ini turut menyajikan unsur misteri yang kental. Karena background awalnya sendiri sudah sangat menarik. Namun ternyata ke belakangnya lebih fokus pada hubungan antara Ivarr dan Lyre a.k.a Solveig. 

Namun hal itu tidak membuatku berpikir dua kali untuk memberikan 5 bintang pada Purple Eyes karya Kak Prisca Primasari. 

Buku ini adalah buku yang selama ini telah kucari-cari! Buku yang dapat membuatku mengumpat kegirangan setelah selesai membacanya. Karena akhirnya, aku dapat membaca sebuah buku seperti ini. Buku yang telah kutunggu-tunggu kehadirannya sejak dulu! Terima kasih Kak Prisca dan Penerbit Inari yang telah mewujudkan buku ini!

Buku ini kurekomendasikan untuk kalian semua. Setidaknya kalian harus coba membaca walau hanya sekali. Terlepas dari selera tiap orang yang relatif, aku merasa buku ini tetap pantas masuk dalam daftar bacaan semua orang. 

4 comments:

  1. kalau mau tambah 'magis', harus coba baca Kastil Es, Paris, sama Éclair! hehehe basically saya emg number one fan-nya Prisca P :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Woah! iyaa pastinya jadi kepengin baca semua novel Kak Prisca kok :( Cuman udah langka aja *hiks* Tapi kayaknya pengin ngincar French Pink dulu deh habis kata Kak Prisca itu yang auranya paling mirip sama Purple Eyes *gatau bener engga tuh? hahahha

      Delete
  2. Novel-novelnya Kak Prisca emang patut banget ditunggu, jadi makin ngga sabar..
    Ngomong-ngomong French Pink bagus banget Kak! Tapi aku pribadi lebih suka Eclair :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru nemu French Pink! :( Eclair kayaknya udah sulit carinya ya... huhuhu

      Delete