My Latest Video on Youtube!

                                                                                                        Check Out My Latest Video on Youtube!

                                                                      
Showing posts with label Fantasy. Show all posts
Showing posts with label Fantasy. Show all posts

Tuesday, November 29, 2016

[BOOK REVIEW] An Ember in the Ashes by Sabaa Tahir

520 halaman
Penerbit Spring, 2016
115.000 IDR

"Ada dua jenis rasa bersalah, Jenis yang membebanimu dan jenis yang memberimu tujuan. Biarkan rasa bersalah menjadi bahan bakarmu. Biarkan itu mengingatkanmu tentang jati diri yang kau inginkan. Tarik garis dalam pikiranmu. Jangan pernah menyeberang lagi. Kau punya jiwa. Jiwa itu rusak, tapi tetap ada. Jangan biarkan mereka mengambilnya darimu, Elias."
-Laia, hlm. 436

SINOPSIS

Laia seorang budak. Elias seorang prajurit. Keduanya bukan orang merdeka.

Saat kakak laki-laki Laia ditahan dengan tuduhan pemberontakan, Laia harus mengambil keputusan. Dia rela menjadi mata-mata Komandan Blackcliff, kepala sekolah militer terbaik di Imperium, demi mendapatkan bantuan untuk membebaskan kakaknya. Di sana, dia bertemu dengan seorang prajurit elit bernama Elias.

Elias membenci militer dan ibunya, Sang Komandan yang brutal. Pemuda ini berencana untuk melarikan diri dari Blackliff, menanggung risiko dicambuk sampai mati jika ketahuan. Dia hanya ingin bebas. 

Elias dan Laia. Keduanya akan segera menyadari bahwa nasib mereka akan saling silang, dan keputusan-keputusan mereka akan menentukan nasib Imperium, dan bangsa mereka.

------------------------------------------------------------------------------------

Laia dan Elias adalah dua individu yang saling bertolak belakang. Laia merupakan keturunan bangsa Scholar yang telah sejak lama dijajah oleh bangsa Martial. Sejak lahir, Laia ditakdirkan untuk hidup dalam ketakutan serta ketidaktahuan. Ia ditakdirkan untuk tunduk terhadap bangsa Martial. Sementara Elias yang merupakan keturunan Martial, ditakdirkan untuk mengabdi kepada kekuasaan Imperium dalam wujud seorang Mask, prajurit pembunuh berdarah dingin. 

Namun, mereka berdua lebih mirip dari yang terlihat. 

Mereka adalah batu-batu Ember yang membara di tengah abu. Mereka berjuang sekuat tenaga demi meraih hal paling penting dalam hidup mereka. Laia, yang berjuang demi keluarga, demi membebaskan kakak yang begitu disayanginya. Dan Elias, yang berjuang demi kebebasan yang tidak pernah dirasakan olehnya semenjak takdir memilihnya untuk menjadi seorang Mask.

Thursday, April 14, 2016

[EARLY BOOK REVIEW] Purple Eyes by Prisca Primasari

144 halaman
Penerbit Inari, 2016
Paperback Edition

"Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih."
-halaman 117


"Tidak ada salahnya memiliki harapan, baik ketika hidup maupun setelah mati."
-halaman 123

"Umur 22 tahun atau 200 tahun tidak ada bedanya. Kalau kau sudah meraih semua yang kau inginkan, yang tersisa bagimu hanyalah beristirahat dengan tenang. Dan menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kematian."
-halaman 124

SINOPSIS

Karena terkadang, 
tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun. 

------------------------------------------------------------------------------------

Purple Eyes berkisah mengenai Lyre dan Hades. Sesuai nama, Hades adalah seorang dewa kematian sementara Lyre adalah pelayannya. Tugas Hades dan Lyre adalah menyambut orang-orang yang telah meninggal di Bumi dan mengantarkan mereka pada ujian yang akan menentukan nasib mereka. Apakah mereka akan menuju ke alam lain dan benar-benar mati, atau bereinkarnasi dan kembali ke bumi. Semua itu ditentukan oleh seberapa besar keinginan mereka untuk hidup atau mati. 

Tugas semacam itu tentunya membuat Hades merasa bosan. Untungnya, kebosanan itu tidak berlangsung lama. Hades dan Lyre ditugaskan ke Bumi untuk memberantas pembunuh berantai yang berkeliaran di Trondheim, Norwegia. Lyre yang bersemangat menjalankan tugas itu pun menyiapkan segalanya, mulai dari pakaian hingga nama samaran untuknya dan Hades. Ia memilih nama Solveig sebagai nama samarannya, dan memilih nama Halstein sebagai nama samaran Hades. Ia hanya tidak tahu bahwa kasus ini akan menjadi kasus yang berbeda dari sebelum-sebelumnya karena kehadiran sosok Ivarr Amundsen...

Saturday, April 9, 2016

[BOOK REVIEW] Two Souls by Elvira Natali

232 halaman
Gramedia Pustaka Utama, 2016
58.000 IDR 
Paperback Edition

Sejak tahu dirinya adalah seorang Victer, keturunan Dewa Dionysus yang mampu membangkitkan jiwa-jiwa dari kematian, Arlesta menutup pintu hatinya dari dunia luar. Tetapi, keadaan berubah ketika dia bertemu Nick, pianis tampan bersifat dingin yang familier baginya. Dunianya yang tak berwarna seketika jungkir-balik dipenuhi banyak rasa.

Namun, kebahagiaan itu berhenti ketika Arlesta tahu sahabat baiknya juga menyukai Nick. Juga saat dia menemukan kenyataan kekuatannya tak dapat menyelamatkan nyawa Nick yang terancam. Akankah jiwa mereka menemukan jalan untuk bersama? Atau rahasia masa lalu justru memisahkan keduanya? 

------------------------------------------------------------------------------------

Ada beberapa alasan yang membuatku segera membeli buku ini ketika tidak sengaja melihatnya di Gramedia (dan ternyata kebetulan bukunya memang baru terbit hari itu). Pertama, aku memang sudah penasaran dengan buku ini sejak melihat sinopsisnya di goodreads. Ketika membaca sinopsis, aku langsung berpikiran bahwa buku ini bergenre fantasi. Buku Young Adult bergenre fantasi karya penulis Indonesia? Wow! Tentu penasaran bukan main rasanya. Kedua, aku penasaran dengan perkembangan Elvira Natali. Jika dulu aku tidak menyukai Janji Hati (karya debut Elvira), mungkin sekarang aku akan menyukai karyanya. Jadi, tanpa pikir panjang, aku langsung beli dan membacanya dalam waktu satu hari. Bukunya tipis sih, jadi bacanya cepat. 

Pertama kali membuka bagian dalam buku, pembaca akan langsung disambut dengan ilustrasi dedaunan yang membingkai halaman, serta sosok menyerupai peri di bagian bawah halaman. Cantik sih, walau jujur aku tidak suka ilustrasi peri-nya. Aku baru tahu kalau sosok peri di bagian bawah halaman itu ternyata Omnisciens Angelus dan Animae Angelus setelah selesai membaca buku. Karena ilustrasi tersebut dilampirkan di akhir buku dan diberi keterangan. 

Saturday, February 27, 2016

[BOOK REVIEW] Sayap-Sayap Kecil by Andry Setiawan

124 halaman
Penerbit Inari, 2015
IDR 39.500
Paperback Edition

Para pembaca, 
Berikut fakta singkat tentang diriku:

1. Namaku Lana Wijaya
2. Ibuku suka memukul dan menyiksaku bahkan dengan kesalahan sekecil apa pun. Seperti ketika aku lupa membeli obat nyamuk.
3. Aku punya tetangga baru, cowok cakep yang tinggal di sebelah rumah.
4. Kehadiran cowok cakep tidak mengubah kenyataan bahwa aku sering pergi ke sekolah dengan bekas memar di sekujur tubuhku.
5. Doakan aku supaya bisa lulus SMA secepat mungkin dan pergi dari rumah sialan ini.

Buku ini adalah buku harianku. Aku tidak akan merahasiakannya dan membiarkan kalian untuk membaca kisah hidupku yang tidak terlalu sederhana ini. Mungkin sedikit aneh. Tapi aku harap kalian bisa belajar dari aku. 

------------------------------------------------------------------------------------
Seperti yang tertulis pada sinopsis, Sayap-Sayap Kecil mengangkat sebuah topik yang menurutku cukup jarang digunakan oleh penulis-penulis Indonesia, yaitu kekerasan pada anak. Yang mana, sebenarnya sangat menarik. Ceritanya sendiri memang cukup sederhana. Jumlah halaman bukunya juga tipis. Aku menyelesaikan buku ini hanya dalam sekali duduk. Dua jam dan buku ini sudah selesai kubaca. 

Sayangnya, walau topiknya menarik, ceritanya yang sangat singkat membuat buku ini menjadi mudah 'dilupakan'. Sama sekali tidak meninggalkan dampak apapun padaku karena yah... Rasanya seperti baru berkenalan dengan seseorang, lalu sudah berpisah lagi. Terlalu cepat, dan sulit untuk meninggalkan kesan yang dalam. 

Untungnya, penulis cukup cerdik dengan menyisipkan sebuah twist di akhir buku. Berani taruhan 100% orang yang membaca buku ini tidak akan dapat menebak twist di akhir (ini serius). Jujur aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa terhadap twist ini. Aku tidak benar-benar menyukainya karena menurutku itu cukup absurd... Tapi toh, twist itu akhirnya membuatku terus teringat dengan buku ini. Yang berarti, telah mematahkan argumenku di paragraf sebelumnya tentang 'buku yang mudah dilupakan'. 

Tidak banyak yang dapat kukomentari dari buku ini sebenarnya. Karena karakter-karakternya sendiri tidak cukup unik atau menarik bagiku. Kecuali 'fetish' Lana terhadap buku harian mungkin ya... :D (just kidding). Karena bayangkan saja, Lana mungkin telah menulis buku harian sepanjang hidupnya. Sayap-Sayap Kecil yang sampai ke tangan pembaca ini adalah buku harian ke-11 Lana. In case kalian tidak tahu bahwa Sayap-Sayap Kecil ini ditulis dalam format buku harian, aku akan menegaskan bahwa Sayap-Sayap Kecil memang ditulis dalam format buku harian.

Walau aku menemukan beberapa hal yang sedikit ganjil dari segi cerita, penulisannya sendiri cukup bagus dan bahasanya juga mengalir. Sangat enak untuk dibaca :D 


Pada akhirnya, aku tetap merasa buku ini cukup menghibur. Teramat-sangat ringan dan cocok untuk dibaca ketika kalian sedang book-lag. Buku ini akan menjadi buku 'transisi' yang pas untuk move on dari satu buku ke buku lainnya. 

3 bintang untuk Sayap-Sayap Kecil karya Andry Setiawan

Buku ini kurekomendasikan untuk kalian yang sedang ingin membaca bacaan ringan, ingin move-on dari sebuah buku (book-lag), atau menyukai buku dengan tema kekeluargaan. 

P.S: Aku juga membeli buku Kak Andry Setiawan yang satunya, When the Star Falls. Aku sudah mengintip sedikit dalamnya dan sepertinya isi serta cara penulisannya jauh berbeda dengan Sayap-Sayap Kecil. Jadi penasaran dan tidak sabar untuk membacanya! :D 

Friday, February 12, 2016

[EARLY BOOK REVIEW] The Lunar Chronicles #2: Scarlet by Marissa Meyer

444 halaman
Penerbit Spring, 2016
Indonesian Version

"Jangan berterima kasih kepadaku karena mengatakan yang sebenarnya padahal aku bisa berbaik hati dengan berbohong kepadamu." 
-Wolf, hal. 259

"Kalau aku mencoba melindungimu, itu bukan merupakan sebuah kebodohan. Tapi menjadi sebuah kebodohan kalau aku hampir percaya tindakan itu akan membuat perbedaan."
-Wolf, hal. 266

"Aku menghargai semua yang kau berikan kepadaku. Meskipun aku tidak pantas mendapatkan itu semua." 
-Wolf, hal. 431

"Aku tahu mereka akan membunuhku kalau mereka tahu, tapi... Aku kira aku sadar lebih baik aku mati karena mengkhianati mereka, daripada hidup karena aku mengkhianatimu."
-Wolf, hal. 432

SINOPSIS

Nenek Scarlet Benoit, Michelle Benoit, menghilang. Bahkan kepolisian berhenti mencarinya dan menganggap wanita itu melarikan diri atau bunuh diri.
Marah dengan keputusan dari pihak kepolisian, Scarlet membulatkan tekad untuk mencari neneknya bersama dengan seorang pemuda petarung jalanan bernama Wolf, yang kelihatannya menyimpan informasi tentang hilangnya nenek Scarlet. 
Apakah benar Wolf bisa dipercaya? Rahasia apa yang disimpan Michelle Benoit sampai dia harus menghilang? 

Di belahan bumi yang lain, status Cinder berubah dari mekanik ternama menjadi buronan yang paling diinginkan di seluruh penjuru Persemakmuran Timur. Dapatkah Cinder sekali lagi menyelamatkan Pangeran Kai dan bumi dari Levana? 


------------------------------------------------------------------------------------

Scarlet adalah buku ke-2 dari seri The Lunar Chronicles. Sama seperti Cinder, Scarlet juga merupakan penceritaan ulang dari sebuah cerita klasik karya Grimm Bersaudara. Dan kali ini, dongeng yang diolah kembali oleh Marissa Meyer adalah 'Gadis Berkerudung Merah'. Ada banyak sekali hal yang membedakan 'Scarlet' dengan 'Gadis Berkerudung Merah', terutama dari segi karakterisasi tokoh-tokoh di dalamnya. Aku tidak dapat memikirkan kata lain yang dapat menggambarkan Scarlet dengan tepat selain kata 'badass'. :)

Selain menceritakan perjalanan Scarlet dan Wolf dalam usaha menemukan nenek Scarlet, buku ini juga menceritakan kelanjutan dari kisah Cinder yang benar-benar merupakan sambungan dari buku pertama, tanpa diputus sedikitpun. Oleh sebab itu, kisah di dalam buku ini diceritakan dari berbagai sudut pandang walau kebanyakan merupakan sudut pandang Scarlet dan Cinder.

Tuesday, December 22, 2015

[EARLY BOOK REVIEW] The Lunar Chronicles #1: Cinder by Marissa Meyer


373 halaman
Penerbit Spring, 2016
Indonesian Version

"Akan lebih mudah menyuruh orang lain untuk menganggapmu cantik kalau kau bisa meyakinkan dirimu sendiri bahwa kau memang cantik. Tapi, cermin memiliki cara yang luar biasa untuk mengatakan yang sebenarnya.”
-Dr. Erland, hal. 168

Cinder, buku pertama dari The Lunar Chronicles mengambil setting waktu pada era setelah perang dunia keempat. Di era tersebut, android dan manusia hidup saling berdampingan satu sama lain. Bumi hanya dibagi menjadi enam negara yaitu Kerajaan Inggris, Uni Afrika, Federasi Eropa, Republik Amerika, Australia, dan Persemakmuran Timur. 

Linh Cinder adalah seorang mekanik handal di daerah New Beijing, Persemakmuran Timur. Ia tinggal bersama dengan ibu tirinya, Adri, serta kedua saudara tirinya, Peony dan Pearl. Ia juga memiliki sebuah android pembantu bernama Iko yang sangat menggemaskan. Sepintas, Cinder terlihat seperti seorang gadis biasa. Tidak banyak yang tahu bahwa ia adalah cyborg, makhluk hidup dengan beberapa bagian tubuh robot. 

Setidaknya, hanya hidup sebagai seorang cyborg mekanik yang perlu Cinder khawatirkan. Hingga hari yang seharusnya berakhir bahagia karena pertemuannya dengan Pangeran Kaito, berbalik arah dan mengubah hidupnya.  

Seperti yang mungkin kalian semua telah ketahui, Cinder adalah penceritaan ulang dari cerita klasik karya Grimm bersaudara yang berjudul Cinderella. Walau ada banyak unsur-unsur utama dari cerita klasik Cinderella yang dipertahankan, banyak juga unsur-unsur baru yang ditambahkan. Seperti dunia futuristik yang tentunya berbeda jauh dengan setting cerita klasik Cinderella, wabah mematikan, dan juga perseteruan antara manusia bumi dengan manusia bulan. Unsur-unsur tambahan tersebut terkadang berhasil membuatku lupa bahwa Cinder adalah penceritaan ulang dari Cinderella. Sehingga aku dapat mengatakan bahwa Cinder bukanlah sekedar penceritaan ulang dari sebuah dongeng klasik, Cinder berbeda.

Selain memiliki konflik tambahan, Cinder juga memiliki karakter-karakter tambahan. Dan anehnya, karakter-karakter tambahan itulah yang malah membuatku jatuh cinta terhadap buku ini. Bukan karakter utama seperti Cinder atau Pangeran Kaito, melainkan tokoh pembantu seperti Iko atau Dr. Erland.

Saturday, September 5, 2015

[BOOK REVIEW] For One More Day by Mitch Albom


248 halaman
Gramedia Pustaka Utama, 2008
Paperback Edition - Indonesian Version


Ibu memandangku sekilas. "Ingat Charley. Terkadang, anak-anak ingin kau terluka sebagaimana dia terluka."
Terluka sebagaimana dia terluka? Apakah itu yang pernah kulakukan? Apakah aku ingin melihat di wajah ibuku penolakan yang kuterima dari ayahku? Apakah anakku melakukan hal yang sama terhadapku?
"Aku tidak punya maksud apa-apa dengan berbuat begitu, Bu," bisikku.
"Dengan berbuat apa?"
"Merasa malu. Karena Ibu, atau pakaianmu atau... keadaan-mu."
Ibu membersihkan sampo dari tangannya, lalu mengarahkan kucuran air ke kepala Rose.
"Anak yang merasa malu karena ibunya," katanya, "hanya anak yang belum terlalu lama menjalani hidup."
(hal. 111)

SINOPSIS 

Ketika masih kecil, Charley Benetto diminta untuk memilih oleh ayahnya, hendak menjadi "anak mama atau anak papa, tapi tidak bisa dua-duanya." Maka dia memilih ayahnya, memujanya. Namun sang ayah pergi begitu saja ketika Charley menjelang remaja. Dan Charley dibesarkan oleh ibunya seorang diri, Meski sering kali dia merasa malu akan keadaan ibunya serta merindukan keluarga yang utuh.

Bertahun-tahun kemudian, ketika hidupnya hancur oleh minuman keras dan penyesalan, Charley berniat bunuh diri. Tapi gagal, dan justru dibawa kembali ke rumahnya yang lama dan menemukan hal yang mengejutkan. Ibunya yang telah meninggal delapan tahun silam, masih tinggal di sana dan menyambut kepulangannya seolah tak pernah terjadi apa-apa...

------------------------------------------------------------------------------------

Cuplikan adegan yang kusisipkan sebelum sinopsis adalah adegan favoritku dari keseluruhan cerita. Awalnya aku membaca cerita ini dengan perasaan datar, tanpa ekspektasi, dan juga tanpa kekaguman. Biasa saja. Tapi setelah peristiwa demi peristiwa masa kecil Charley terungkap, aku mulai dapat terhubung dengan karakter-karakter yang ada di dalamnya. Terutama Charley dan ibunya, tentunya. Dan ketika sampai di pertengahan cerita, aku tanpa sadar telah terbawa oleh arus cerita tersebut. Aku benar-benar mampu merasakan perasaan karakter di dalamnya. Dan, halaman 111 adalah puncak dimana aku benar-benar mengalami yang dinamakan 'sesak napas' ketika membacanya. Seluruh emosi dari kejadian-kejadian di masa kecil Charley sebelum halaman itu menumpuk dan akhirnya meledak ketika aku membaca halaman tersebut.