My Latest Video on Youtube!

                                                                                                        Check Out My Latest Video on Youtube!

                                                                      
Showing posts with label Young Adult. Show all posts
Showing posts with label Young Adult. Show all posts

Tuesday, November 29, 2016

[BOOK REVIEW] An Ember in the Ashes by Sabaa Tahir

520 halaman
Penerbit Spring, 2016
115.000 IDR

"Ada dua jenis rasa bersalah, Jenis yang membebanimu dan jenis yang memberimu tujuan. Biarkan rasa bersalah menjadi bahan bakarmu. Biarkan itu mengingatkanmu tentang jati diri yang kau inginkan. Tarik garis dalam pikiranmu. Jangan pernah menyeberang lagi. Kau punya jiwa. Jiwa itu rusak, tapi tetap ada. Jangan biarkan mereka mengambilnya darimu, Elias."
-Laia, hlm. 436

SINOPSIS

Laia seorang budak. Elias seorang prajurit. Keduanya bukan orang merdeka.

Saat kakak laki-laki Laia ditahan dengan tuduhan pemberontakan, Laia harus mengambil keputusan. Dia rela menjadi mata-mata Komandan Blackcliff, kepala sekolah militer terbaik di Imperium, demi mendapatkan bantuan untuk membebaskan kakaknya. Di sana, dia bertemu dengan seorang prajurit elit bernama Elias.

Elias membenci militer dan ibunya, Sang Komandan yang brutal. Pemuda ini berencana untuk melarikan diri dari Blackliff, menanggung risiko dicambuk sampai mati jika ketahuan. Dia hanya ingin bebas. 

Elias dan Laia. Keduanya akan segera menyadari bahwa nasib mereka akan saling silang, dan keputusan-keputusan mereka akan menentukan nasib Imperium, dan bangsa mereka.

------------------------------------------------------------------------------------

Laia dan Elias adalah dua individu yang saling bertolak belakang. Laia merupakan keturunan bangsa Scholar yang telah sejak lama dijajah oleh bangsa Martial. Sejak lahir, Laia ditakdirkan untuk hidup dalam ketakutan serta ketidaktahuan. Ia ditakdirkan untuk tunduk terhadap bangsa Martial. Sementara Elias yang merupakan keturunan Martial, ditakdirkan untuk mengabdi kepada kekuasaan Imperium dalam wujud seorang Mask, prajurit pembunuh berdarah dingin. 

Namun, mereka berdua lebih mirip dari yang terlihat. 

Mereka adalah batu-batu Ember yang membara di tengah abu. Mereka berjuang sekuat tenaga demi meraih hal paling penting dalam hidup mereka. Laia, yang berjuang demi keluarga, demi membebaskan kakak yang begitu disayanginya. Dan Elias, yang berjuang demi kebebasan yang tidak pernah dirasakan olehnya semenjak takdir memilihnya untuk menjadi seorang Mask.

Thursday, November 10, 2016

[BOOK REVIEW] Wrecked by Maria Padian

368 pages
Algonquin Young Readers, 2016

*Disclaimer*
I receive a copy from Netgalley in exchange with an honest review

BLURB

Everyone on campus has a different version of what happened that night.

Haley saw Jenny return from the party, shell-shocked.

Richard heard Jordan brag about the cute freshman he hooked up with.

When Jenny accuses Jordan of rape, Haley and Richard are pushed to opposite sides of the school's investigation. Now conflicting versions of the story may make bringing the truth to light nearly impossible--especially when reputations, relationships, and whole futures are riding on the verdict. 

------------------------------------------------------------------------------------

Wrecked tells us an important story about rape in the society. The story itself takes place in the college and it centers on a rape scene that happened to a girl named Jenny. What's interesting about 'Wrecked' is how Padian decided to focus more on capturing 'Who's the real victim' situation instead of telling readers about how painful or traumatizing a rape could be. Padian made me question about who speaks the truth for the entire book. Is Jenny the real victim? or is she the 'culprit' instead? Because the case where an innocent man accused as rapist doesn't only happen once or twice. It happens all the time. And Padian takes this into account. She puts the reader into a bystander point of view. Where we see the whole scenario through Jenny's roommate, named Haley, and the suspect's housemate, named Richard. 

Even though Wrecked focuses more on the possibility of false accusation, it doesn't completely disregard about the traumatizing effects of rape to its victim. It portrays the effects pretty well without being too much or too dramatized. The effects are portrayed perfectly.

Aside from being a strong book about rape, it also has some portion for romance. A cute one, even. The romance between Haley and Richard isn't forced. It fits the whole story perfectly and even adds more dimension into it. 

Another thing that I love about Wrecked is how the book doesn't fall into a depressive or dark category. It is light and educative. It's such a unique thing, knowing that most of the books that are dealing with rape are usually pretty depressive. 

By the end of this book, I'm willing to give this 4 glorious stars, simply because of its awesomeness. I'm glad that I pick this book despite of being worry about the number of pages at first. Since I still think that a contemporary YA romance with more than 300 pages is actually kinda... worrying(?) I mean, I don't want to read a lovey-dovey cringy relationship for more than 300 pages. And I could assure you that Wrecked is definitely not one of them! 

Thursday, April 14, 2016

[EARLY BOOK REVIEW] Purple Eyes by Prisca Primasari

144 halaman
Penerbit Inari, 2016
Paperback Edition

"Membenci itu sangat melelahkan, bahkan lebih menguras emosi daripada merasa sedih."
-halaman 117


"Tidak ada salahnya memiliki harapan, baik ketika hidup maupun setelah mati."
-halaman 123

"Umur 22 tahun atau 200 tahun tidak ada bedanya. Kalau kau sudah meraih semua yang kau inginkan, yang tersisa bagimu hanyalah beristirahat dengan tenang. Dan menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kematian."
-halaman 124

SINOPSIS

Karena terkadang, 
tidak merasakan itu lebih baik daripada menanggung rasa sakit yang bertubi-tubi

Ivarr Amundsen kehilangan kemampuannya untuk merasa. Orang yang sangat dia sayangi meninggal dengan cara yang keji, dan dia memilih untuk tidak merasakan apa-apa lagi, menjadi seperti sebongkah patung lilin.

Namun, saat Ivarr bertemu Solveig, perlahan dia bisa merasakan lagi percikan-percikan emosi dalam dirinya. Solveig, gadis yang tiba-tiba masuk dalam kehidupannya. Solveig, gadis yang misterius dan aneh.

Berlatar di Trondheim, Norwegia, kisah ini akan membawamu ke suatu masa yang muram dan bersalju. Namun, cinta akan selalu ada, bahkan di saat-saat tergelap sekalipun. 

------------------------------------------------------------------------------------

Purple Eyes berkisah mengenai Lyre dan Hades. Sesuai nama, Hades adalah seorang dewa kematian sementara Lyre adalah pelayannya. Tugas Hades dan Lyre adalah menyambut orang-orang yang telah meninggal di Bumi dan mengantarkan mereka pada ujian yang akan menentukan nasib mereka. Apakah mereka akan menuju ke alam lain dan benar-benar mati, atau bereinkarnasi dan kembali ke bumi. Semua itu ditentukan oleh seberapa besar keinginan mereka untuk hidup atau mati. 

Tugas semacam itu tentunya membuat Hades merasa bosan. Untungnya, kebosanan itu tidak berlangsung lama. Hades dan Lyre ditugaskan ke Bumi untuk memberantas pembunuh berantai yang berkeliaran di Trondheim, Norwegia. Lyre yang bersemangat menjalankan tugas itu pun menyiapkan segalanya, mulai dari pakaian hingga nama samaran untuknya dan Hades. Ia memilih nama Solveig sebagai nama samarannya, dan memilih nama Halstein sebagai nama samaran Hades. Ia hanya tidak tahu bahwa kasus ini akan menjadi kasus yang berbeda dari sebelum-sebelumnya karena kehadiran sosok Ivarr Amundsen...

Saturday, April 9, 2016

[BOOK REVIEW] Two Souls by Elvira Natali

232 halaman
Gramedia Pustaka Utama, 2016
58.000 IDR 
Paperback Edition

Sejak tahu dirinya adalah seorang Victer, keturunan Dewa Dionysus yang mampu membangkitkan jiwa-jiwa dari kematian, Arlesta menutup pintu hatinya dari dunia luar. Tetapi, keadaan berubah ketika dia bertemu Nick, pianis tampan bersifat dingin yang familier baginya. Dunianya yang tak berwarna seketika jungkir-balik dipenuhi banyak rasa.

Namun, kebahagiaan itu berhenti ketika Arlesta tahu sahabat baiknya juga menyukai Nick. Juga saat dia menemukan kenyataan kekuatannya tak dapat menyelamatkan nyawa Nick yang terancam. Akankah jiwa mereka menemukan jalan untuk bersama? Atau rahasia masa lalu justru memisahkan keduanya? 

------------------------------------------------------------------------------------

Ada beberapa alasan yang membuatku segera membeli buku ini ketika tidak sengaja melihatnya di Gramedia (dan ternyata kebetulan bukunya memang baru terbit hari itu). Pertama, aku memang sudah penasaran dengan buku ini sejak melihat sinopsisnya di goodreads. Ketika membaca sinopsis, aku langsung berpikiran bahwa buku ini bergenre fantasi. Buku Young Adult bergenre fantasi karya penulis Indonesia? Wow! Tentu penasaran bukan main rasanya. Kedua, aku penasaran dengan perkembangan Elvira Natali. Jika dulu aku tidak menyukai Janji Hati (karya debut Elvira), mungkin sekarang aku akan menyukai karyanya. Jadi, tanpa pikir panjang, aku langsung beli dan membacanya dalam waktu satu hari. Bukunya tipis sih, jadi bacanya cepat. 

Pertama kali membuka bagian dalam buku, pembaca akan langsung disambut dengan ilustrasi dedaunan yang membingkai halaman, serta sosok menyerupai peri di bagian bawah halaman. Cantik sih, walau jujur aku tidak suka ilustrasi peri-nya. Aku baru tahu kalau sosok peri di bagian bawah halaman itu ternyata Omnisciens Angelus dan Animae Angelus setelah selesai membaca buku. Karena ilustrasi tersebut dilampirkan di akhir buku dan diberi keterangan. 

Friday, March 11, 2016

[BOOK REVIEW] Love Theft #2 by Prisca Primasari

242 halaman
Prisca Primasari, 2016
Paperback Edition

"Betapa ironis fakta bahwa seorang pria, sekuat apapun dirinya, bisa remuk gara-gara wanita. Wanita sanggup menghancurkan; wanita pun mampu membangkitkan."
-Frea Rinata, hal. 57

"Aku berharap bisa menunjukkan hal-hal indah lain pada Liquor, suatu saat nanti. Sampai sekarang aku masih memikirkan apa tepatnya itu. Dan tidak pernah berhenti memikirkannya."
-Frea Rinata, hal. 63

"Senyum paling menyakitkan adalah senyum penuh kepedihan."
-Frea Rinata, hal. 67

"Neraka ada tujuh lapis, dan penghuni lapisan ketujuh tidak akan pernah bisa naik surga. Sementara penghuni lapisan pertama sampai keenam masih punya kesempatan."
-Night & Liquor, hal. 156

SINOPSIS

Permasalahan yang dihadapi Frea, Liquor, dan Night semakin rumit saja. Ketiganya harus membenahi kekeliruan yang mereka lakukan, sekaligus bertarung dengan perasaan masing-masing. 

Di sisi lain, Frea semakin mengenal Liquor; sedikit demi sedikit. Dia memahami luka pemuda itu, mengetahui masa lalunya, juga terus berusaha mengobati hatinya. 

Namun tepat saat Frea menyadari betapa dia mencintai Liquor, sesuatu terjadi. Masalah baru yang luput dari perhitungannya.

------------------------------------------------------------------------------------

Buku ke-2 Love Theft bercerita mengenai kelanjutan kisah Coco Kartikaningtias dengan kalung Tiffany&Co. miliknya yang dicuri oleh Liquor. Jujur, aku tidak menduga ceritanya akan berkembang menjadi seperti ini. Selagi menunggu buku ini terbit, aku membayangkan cerita akan dipenuhi dengan adegan action atau tipu daya. Setelah membaca berlembar-lembar halaman awal pun aku masih yakin bahwa cerita akan dipenuhi adegan action menjelang chapter-chapter akhir. Dan ternyata, aku salah besar. Setelah mencapai pertengahan buku, aku langsung menyadari bahwa 'Ah,.. pada akhirnya memang buku ini lebih menitikberatkan unsur romance.'

Anehnya aku malah suka, walau alurnya tidak sesuai dengan dugaanku. Aku suka bagaimana buku ke-2 Love Theft lebih sentimentil dari buku pertama. Buku ini tidak menitikberatkan pada action, melainkan perkembangan karakter-karakter di dalamnya. Melalui buku ini, kita akan jauh lebih mengerti karakter Liquor, Night, dan juga Frea sendiri. Dan lagi-lagi anehnya, walau di buku pertama aku jauh lebih memilih Liquor daripada Night. Di buku kedua, aku malah lebih tertarik pada Night (maafkan aku, Liquor). 

Saturday, February 27, 2016

[BOOK REVIEW] Sayap-Sayap Kecil by Andry Setiawan

124 halaman
Penerbit Inari, 2015
IDR 39.500
Paperback Edition

Para pembaca, 
Berikut fakta singkat tentang diriku:

1. Namaku Lana Wijaya
2. Ibuku suka memukul dan menyiksaku bahkan dengan kesalahan sekecil apa pun. Seperti ketika aku lupa membeli obat nyamuk.
3. Aku punya tetangga baru, cowok cakep yang tinggal di sebelah rumah.
4. Kehadiran cowok cakep tidak mengubah kenyataan bahwa aku sering pergi ke sekolah dengan bekas memar di sekujur tubuhku.
5. Doakan aku supaya bisa lulus SMA secepat mungkin dan pergi dari rumah sialan ini.

Buku ini adalah buku harianku. Aku tidak akan merahasiakannya dan membiarkan kalian untuk membaca kisah hidupku yang tidak terlalu sederhana ini. Mungkin sedikit aneh. Tapi aku harap kalian bisa belajar dari aku. 

------------------------------------------------------------------------------------
Seperti yang tertulis pada sinopsis, Sayap-Sayap Kecil mengangkat sebuah topik yang menurutku cukup jarang digunakan oleh penulis-penulis Indonesia, yaitu kekerasan pada anak. Yang mana, sebenarnya sangat menarik. Ceritanya sendiri memang cukup sederhana. Jumlah halaman bukunya juga tipis. Aku menyelesaikan buku ini hanya dalam sekali duduk. Dua jam dan buku ini sudah selesai kubaca. 

Sayangnya, walau topiknya menarik, ceritanya yang sangat singkat membuat buku ini menjadi mudah 'dilupakan'. Sama sekali tidak meninggalkan dampak apapun padaku karena yah... Rasanya seperti baru berkenalan dengan seseorang, lalu sudah berpisah lagi. Terlalu cepat, dan sulit untuk meninggalkan kesan yang dalam. 

Untungnya, penulis cukup cerdik dengan menyisipkan sebuah twist di akhir buku. Berani taruhan 100% orang yang membaca buku ini tidak akan dapat menebak twist di akhir (ini serius). Jujur aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa terhadap twist ini. Aku tidak benar-benar menyukainya karena menurutku itu cukup absurd... Tapi toh, twist itu akhirnya membuatku terus teringat dengan buku ini. Yang berarti, telah mematahkan argumenku di paragraf sebelumnya tentang 'buku yang mudah dilupakan'. 

Tidak banyak yang dapat kukomentari dari buku ini sebenarnya. Karena karakter-karakternya sendiri tidak cukup unik atau menarik bagiku. Kecuali 'fetish' Lana terhadap buku harian mungkin ya... :D (just kidding). Karena bayangkan saja, Lana mungkin telah menulis buku harian sepanjang hidupnya. Sayap-Sayap Kecil yang sampai ke tangan pembaca ini adalah buku harian ke-11 Lana. In case kalian tidak tahu bahwa Sayap-Sayap Kecil ini ditulis dalam format buku harian, aku akan menegaskan bahwa Sayap-Sayap Kecil memang ditulis dalam format buku harian.

Walau aku menemukan beberapa hal yang sedikit ganjil dari segi cerita, penulisannya sendiri cukup bagus dan bahasanya juga mengalir. Sangat enak untuk dibaca :D 


Pada akhirnya, aku tetap merasa buku ini cukup menghibur. Teramat-sangat ringan dan cocok untuk dibaca ketika kalian sedang book-lag. Buku ini akan menjadi buku 'transisi' yang pas untuk move on dari satu buku ke buku lainnya. 

3 bintang untuk Sayap-Sayap Kecil karya Andry Setiawan

Buku ini kurekomendasikan untuk kalian yang sedang ingin membaca bacaan ringan, ingin move-on dari sebuah buku (book-lag), atau menyukai buku dengan tema kekeluargaan. 

P.S: Aku juga membeli buku Kak Andry Setiawan yang satunya, When the Star Falls. Aku sudah mengintip sedikit dalamnya dan sepertinya isi serta cara penulisannya jauh berbeda dengan Sayap-Sayap Kecil. Jadi penasaran dan tidak sabar untuk membacanya! :D 

Tuesday, December 22, 2015

[EARLY BOOK REVIEW] The Lunar Chronicles #1: Cinder by Marissa Meyer


373 halaman
Penerbit Spring, 2016
Indonesian Version

"Akan lebih mudah menyuruh orang lain untuk menganggapmu cantik kalau kau bisa meyakinkan dirimu sendiri bahwa kau memang cantik. Tapi, cermin memiliki cara yang luar biasa untuk mengatakan yang sebenarnya.”
-Dr. Erland, hal. 168

Cinder, buku pertama dari The Lunar Chronicles mengambil setting waktu pada era setelah perang dunia keempat. Di era tersebut, android dan manusia hidup saling berdampingan satu sama lain. Bumi hanya dibagi menjadi enam negara yaitu Kerajaan Inggris, Uni Afrika, Federasi Eropa, Republik Amerika, Australia, dan Persemakmuran Timur. 

Linh Cinder adalah seorang mekanik handal di daerah New Beijing, Persemakmuran Timur. Ia tinggal bersama dengan ibu tirinya, Adri, serta kedua saudara tirinya, Peony dan Pearl. Ia juga memiliki sebuah android pembantu bernama Iko yang sangat menggemaskan. Sepintas, Cinder terlihat seperti seorang gadis biasa. Tidak banyak yang tahu bahwa ia adalah cyborg, makhluk hidup dengan beberapa bagian tubuh robot. 

Setidaknya, hanya hidup sebagai seorang cyborg mekanik yang perlu Cinder khawatirkan. Hingga hari yang seharusnya berakhir bahagia karena pertemuannya dengan Pangeran Kaito, berbalik arah dan mengubah hidupnya.  

Seperti yang mungkin kalian semua telah ketahui, Cinder adalah penceritaan ulang dari cerita klasik karya Grimm bersaudara yang berjudul Cinderella. Walau ada banyak unsur-unsur utama dari cerita klasik Cinderella yang dipertahankan, banyak juga unsur-unsur baru yang ditambahkan. Seperti dunia futuristik yang tentunya berbeda jauh dengan setting cerita klasik Cinderella, wabah mematikan, dan juga perseteruan antara manusia bumi dengan manusia bulan. Unsur-unsur tambahan tersebut terkadang berhasil membuatku lupa bahwa Cinder adalah penceritaan ulang dari Cinderella. Sehingga aku dapat mengatakan bahwa Cinder bukanlah sekedar penceritaan ulang dari sebuah dongeng klasik, Cinder berbeda.

Selain memiliki konflik tambahan, Cinder juga memiliki karakter-karakter tambahan. Dan anehnya, karakter-karakter tambahan itulah yang malah membuatku jatuh cinta terhadap buku ini. Bukan karakter utama seperti Cinder atau Pangeran Kaito, melainkan tokoh pembantu seperti Iko atau Dr. Erland.

Wednesday, December 16, 2015

[BOOK REVIEW] All the Bright Places by Jennifer Niven

388 halaman 
Knopf, 2015
eBook-English version
Bacaan bulanan Klub Baca Quirky Reads November 2015

"But that isn't why. The why is that none of it matters. Not school, not cheerleading, not boyfriends or friends or parties or creative writing programs or..." She waves her arms at the world. "It's all just time filler until we die." 
-Violet Markey

There are different ways to die. There's jumping off a roof and there's slowly poisoning yourself with the flesh of another every single day.
-Theodore Finch

I know life well enough to know you can't count on things staying around or standing still, no matter how much you want them to. You can't stop people from dying. You can't stop them from going away. You can't stop yourself from going away either. I know myself well enough to know that no one else can keep you "awake" or keep you from "sleeping". 
-Theodore Finch

The problem with people is they forget that most of the time it's the small things that counts. 
-Theodore Finch

SINOPSIS

Theodore Finch is fascinated by death, and he constantly thinks of ways he might kill himself. But each time, something good, no matter how small, stops him.

Violet Markey lives for the future, counting the days until graduation, when she can escape her Indiana town and her aching grief in the wake of her sister's recent death.

When Finch and Violet meet on the ledge of the bell tower at school, it's unclear who saves whom. And when they pair up on a project to discover the "natural wonders" of their state, both Finch and Violet make more important discoveries: It's only with Violet that Finch can be himself--a weird, funny, live-out guy who's not such a freak after all. And it's only with Finch that Violet can forget to count away the days and start living them. But as Violet's world grows, Finch's begins to shrink. 

This is an intense, gripping novel perfect for fans of Jay Asher, Rainbow Rowell, John Green, Gayle Forman, and Jenny Downham from a talented new voice in YA, Jennifer Niven. 

------------------------------------------------------------------------------------

Seperti yang tertulis di cover bagian depan, All the Bright Places bercerita mengenai seorang pemuda bernama Theodore Finch dan seorang gadis bernama ultra-Violet re-Markey-ble (Finch sering memanggilnya dengan Ultraviolet Remarkeyble). Walaupun novel ini adalah bacaan bulanan Quirky Reads, tapi aku tidak benar-benar berniat untuk membacanya sampai buku ini akhirnya memenangkan Goodreads Choice Awards for Young Adult Fiction 2015. Dan dengan titel yang begitu menjanjikan, aku pun akhirnya mulai membaca. 

All the Bright Places mengangkat sebuah topik yang menarik dan cukup dalam. Yaitu mengenai 'bunuh diri'. Aku tidak familiar dengan topik ini karena 'syukur' tidak pernah mengalami peristiwa dimana orang yang kukenal bunuh diri. Sehingga perlu kuakui bahwa sulit bagiku untuk merasa terhubung dengan perasaan karakter utama di dalam buku ini. Aku tidak dapat mengerti alasan yang membuat mereka melakukan hal semacam itu... 

Tuesday, November 10, 2015

[BOOK REVIEW] We Were Liars by E. Lockhart

242 halaman
Delacorte Press, 2014
eBook

SINOPSIS

A beautiful and distinguished family.
A private island.
A brilliant, damaged girl; a passionate, political boy.
A group of four friends—the Liars—whose friendship turns destructive.
A revolution. An accident. A secret.
Lies upon lies.
True love.
The truth.

We Were Liars is a modern, sophisticated suspense novel from National Book Award finalist and Printz Award honoree E. Lockhart. 

Read it.
And if anyone asks you how it ends, just LIE.

------------------------------------------------------------------------------------

Awalnya aku tertarik untuk membaca buku ini karena sedang melihat-lihat daftar pemenang Goodreads Choice Awards 2014. Buku ini merupakan pemenang 2014 Best Young Adult. Harapan pun mulai terbentuk sementara aku membaca sinopsis dari buku ini. Dan dengan satu kalimat terakhir dari sinopsisnya, ‘Read it. And if anyone asks you how it ends, just LIE.’ Ditambah dengan reaksi teman-temanku yang memuji ending dari buku ini, aku pun memutuskan untuk membacanya.

We were Liars bercerita mengenai ‘Liars’, kumpulan 4 orang remaja yang memiliki hubungan dengan keluarga Sinclair. Liars terdiri dari Cadence, Mirren, dan Johnny yang merupakan cucu dari kakek Harris Sinclair. Serta Gat yang merupakan ‘orang asing’ di Pulau Beechwood, pulau pribadi milik keluarga Sinclair. Liars selalu menghabiskan musim panas mereka di Pulau Beechwood. Semua berjalan dengan normal sebelum sebuah 'kecelakaan' menimpa Cadence Sinclair...

Aku sempat kaget dan sedikit bingung karena banyaknya karakter yang bermunculan di bagian awal cerita. Bab kedua mengenalkan kita pada Cadence Sinclair, tokoh utama dari cerita ini serta pemilik sudut pandang yang dipergunakan dalam cerita. Disusul dengan bab ketiga yang mengenalkan kita dengan Penny, Carrie, dan Bess bersaudara. Lalu kepalaku mulai sakit dan kesulitan untuk mencerna ketika bab empat menampilkan Johnny, Mirren, dan Gat. Aku tidak mampu memahami siapa Johnny, siapa Mirren, dan siapa Gat. Belum lagi ditambah dengan Ed dan Granny Tipper. Aku benar-benar tidak mengerti hubungan antar setiap karakter.

Monday, November 9, 2015

[BLOGTOUR/BOOK REVIEW] P.S. I Still Love You by Jenny Han

 356 Halaman
Spring, 2015
Paperback Edition

Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terimakasih kepada Penerbit Spring yang sudah memberikan kesempatan bagiku untuk menjadi salah satu host blog tour P.S. I Still Love You. Terutama karena blog Nocturnal Catfish masih baru dan bahkan belum mempunyai banyak pengikut. 

Sedikit mengingatkan, P.S. I Still Love You adalah sekuel dari To All the Boys I've Loved Before yang review-nya dapat kalian baca di sini

Dan juga, aku ingin mengumumkan bahwa giveaway berhadiah dua buah P.S. I Still Love You untuk dua orang pemenang sudah dimulai di sini


Belakangan sedang keranjingan memotret cantik buku-buku. :D

Mungkin segala yang teramat sangat menyenangkan tidak ditakdirkan untuk berlangsung terlalu lama. Mungkin itulah yang menjadikannya jauh lebih manis, karena sifatnya hanya sementara. 
-Lara Jean, hal. 270

Kalau kau kehilangan seseorang dan rasanya masih menyakitkan, saat itulah kau tahu cinta kalian nyata.
 -Mrs. Rothschild, hal. 321

Banyak orang yang keluar masuk di hidupmu. Untuk satu masa, mereka adalah duniamu, mereka segalanya. Lalu suatu hari mereka bukan lagi apa-apa bagimu. Kau tidak bisa tahu seberapa lama mereka akan berada di dekatmu.
-Lara Jean, hal. 347

SINOPSIS 

Lara Jean tidak mengira akan benar-benar jatuh cinta pada Peter. 

Dia dan Peter tadinya hanya berpura-pura. Tapi tiba-tiba saja mereka tidak lagi pura-pura. Sekarang, Lara Jean tambah bingung dengan perasaannya dan juga dengan situasi yang dia hadapi. 

Saat seorang pemuda dari masa lalunya tiba-tiba kembali ke dalam kehidupannya, percikan yang pernah dia rasakan pun kembali. Bisakah seorang gadis jatuh cinta pada dua pemuda sekaligus? 

Buku ini adalah sekuel dari To All the Boys I've Loved Before, tempat kita bisa merasakan cinta pertama lewat Lara Jean.

Cinta tidak pernah mudah, tapi mungkin itulah yang membuatnya luar biasa. 

------------------------------------------------------------------------------------

P.S I Still Love You bercerita mengenai suka dan duka dalam menjalani sebuah hubungan. Secara keseluruhan, aku merasa baik cerita maupun karakter-karakter di dalam buku ini mengalami pendewasaan dibandingkan dengan buku sebelumnya. Jika To All the Boys I've Loved Before menceritakan manisnya cinta dan hubungan malu-malu kucing khas remaja. Maka P.S. I Still Love You menegaskan bahwa dalam menjalin sebuah hubungan, akan ada saat dimana hubungan kita akan diuji. Dan bertahan atau tidaknya hubungan tersebut ditentukan oleh rasa percaya, baik pada partner kita maupun pada diri sendiri. 

Sunday, November 8, 2015

[BOOK REVIEW] To All the Boys I've Loved Before by Jenny Han

380 halaman
Spring, 2015
Paperback Edition


Ketika seseorang sudah pergi untuk waktu yang lama, awalnya kau berusaha mengumpulkan segala hal yang ingin kau bicarakan dengan mereka. Kau berusaha mencatatnya di kepalamu. Rasanya seperti berusaha memegang segenggam sepenuh pasir, sedikit demi sedikit butiran kecilnya mulai terlepas dari genggamanmu, dan setelah itu kau hanya menggenggam udara dan debu. Itulah alasan kenapa kau tidak bisa mengumpulkannya sekaligus seperti itu. 
Ketika akhirnya bertemu kembali, kau hanya akan membicarakan hal-hal besar, karena membicarakan hal-hal kecil terlalu merepotkan. Padahal hal-hal kecil adalah pelengkap kehidupan.
-Lara Jean, hal. 314

Lara Jean menyimpan surat-surat cintanya di sebuah kotak topi pemberian ibunya.

Surat-surat itu bukan surat cinta yang ditujukan untuknya, tapi surat yang ia tulis. Ada satu surat untuk setiap cowok yang pernah ia cintai, totalnya ada lima pucuk surat. Setiap kali menulis, ia mencurahkan semua perasaannya. Ia menulis seolah-olah mereka tidak akan pernah membacanya karena surat itu memang hanya untuk dirinya sendiri.

Sampai suatu hari, semua surat-surat rahasianya itu tanpa sengaja terkirimkan, entah oleh siapa.
Saat itu juga, kehidupan cinta Lara Jean yang awalnya biasa-biasa saja menjadi tak terkendali. Kekacauan itu melibatkan semua cowok yang pernah ia tulis di surat cintanya, termasuk cinta pertamanya, pacar kakaknya, dan cowok terkeren di sekolah.

Pertama-tama, aku sangat menyesal karena telah menunda membaca buku ini. Jika kalian berteman denganku di Goodreads, kalian akan tahu bahwa buku ini sudah masuk ke dalam rak 'currently-reading' sejak Mei dan baru kuselesaikan di bulan November.

Aku ingat waktu itu aku langsung memesan buku ini tanpa pikir panjang karena blurb-nya yang sangat menarik. Surat cinta yang tidak sengaja terkirim? Wow! What a mess! Aku sangat bersemangat ketika baru mulai membaca. Namun sayangnya semangat itu langsung padam hanya dengan membaca beberapa halaman awal. Aku bosan. Aku bukan tipe orang yang menyukai alur cerita yang lambat. Aku menyukai cerita yang langsung masuk ke inti masalah tanpa basa-basi terlebih dahulu. Dan To All the Boys I've Loved Before adalah tipe buku beralur lambat serta berputar-putar terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam inti masalah. 

Aku sampai bertanya pada temanku, kapan masalah di dalam blurb akan muncul? Karena aku sudah nyaris kehilangan kesabaran hanya dengan membaca kehidupan sehari-hari Lara Jean. Aku merasa tertipu karena masalah yang dimunculkan bukan masalah yang ditulis di dalam blurb. Jadi setelah tiba pada halaman 64 (ya, aku ingat jelas halamannya) dan premis yang dituliskan di dalam blurb muncul, aku sudah terlalu lelah menunggu hingga kehilangan minat dan akhirnya meletakkannya begitu saja. 

Jujur saja, aku baru mulai membaca setelah terpilih menjadi host blogtour dari P.S. I Still Love You, sekuel dari buku ini. Awal membaca pun, aku merasa terbebani dan tidak memiliki sedikitpun harapan pada buku ini. Dan aku tidak pernah sebodoh ini dalam menilai sebuah buku, sungguh. Aku sangat sangat sangat sangat sangat sangat bodoh karena sudah memutuskan terlebih dahulu sebelum selesai membaca. Dalam beberapa lembar setelah aku melanjutkan membaca dari halaman 64, aku sudah jatuh cinta pada buku ini. Tidak, aku jatuh cinta pada karakter Peter Kavinsky. 

Aku menyesalinya. Aku sangat menyesal karena telah menelantarkan buku ini dari bulan Mei dan baru membacanya sekarang...

Karena sekarang, setelah aku selesai membacanya, aku dibuat jatuh cinta oleh Lara Jean dan Peter. Bagaimana mungkin aku dapat menolak pesona kisah manis pasangan ini? Buku ini adalah gambaran dari kisah manis yang pas. Buku ini dapat membuatmu kembali merasakan manisnya jatuh cinta. Buku ini dapat membuatmu tersenyum sendiri sembari membacanya! (Aku tidak dapat berhenti tersenyum ketika membacanya di kelas, dan itu sangat memalukan). Buku ini membuatku jatuh cinta. Sungguh, buku ini membuatku merasakan jatuh cinta sekali lagi. 

Sudah lama aku tidak membaca buku yang mampu mengikatku secara emosional. Dan Oh Tuhan, buku ini TERAMAT SANGAT MAMPU mengikatku secara emosional. Buku ini benar-benar membuatku tergila-gila akan Peter dan bersedia melakukan apapun seandainya dapat menjadi Lara Jean walau hanya untuk sehari. 

Dan aku sangat menyukai bagaimana Jenny Han membuat karakter Peter bukan sebagai cowok so-called-perfect tanpa kekurangan sedikitpun. Kalian tentu tahu, bukan? Tipe cowo-cowo stereotipe yang baik pada semua orang, tampan, gentleman, tahu bagaimana cara memperlakukan seorang gadis, dan lain sebagainya. Jenny Han menyisipkan sifat-sifat negatif Peter! Dan hal itu kerap muncul di dalam cerita. Anehnya, sifat-sifat negatif Peter malah membuatku jatuh cinta lebih dalam lagi padanya. Hal itu malah membuatnya menjadi karakter nyata yang tampaknya dapat kuraih. 

Dengan ini, aku mendeklarasikan bahwa ini adalah pertama kalinya aku jatuh cinta dengan tokoh di dalam sebuah novel. :") #MyFirstFictionalCharacterCrush 

Karakter Lara Jean pun sangat menarik dan mudah untuk dicintai. Ia adalah gadis polos dengan sifat kekeluargaan yang kuat. Melihat hubungan antara Lara Jean dengan kakak perempuan, adik perempuan, dan ayahnya juga sangat menyenangkan. Tak kalah menarik dari melihat hubungan antara Lara Jean dan Peter. 

Satu lagi pesona dari To All the Boys I've Loved Before yang sangat kukagumi adalah bagaimana ia mampu menampilkan sebuah kisah cinta yang truly sweetinnocent. Jika banyak sekali YA lain yang memasukkan adegan seks ke dalam bukunya, di sini tidak ada satupun adegan seks. Cerita ini murni terasa manis. Sangat manis hingga rasanya aku ingin membacanya lagi dan lagi untuk berulang kali merasakan perasaan itu. Aku ingin jatuh cinta layaknya Lara dan Peter! 

Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Jenny Han karena telah membiarkanku merasakan perasaan 'itu' sekali lagi. Perasaan dimana aku sangat terikat pada sebuah buku dan benar-benar mencintai setiap detail darinya (kecuali 64 halaman awal, maaf.) Perasaan dimana aku dapat dibuat jatuh cinta dengan seseorang yang hanya aku kenal lewat kata dan kalimat. Aku benar-benar tidak menyangka akan mampu merasakan perasaan seperti itu lagi. Perasaan seperti ini adalah alasan aku membaca buku. Dan kurasa, buku ini benar-benar telah menyelamatkanku dari reading slump yang belakangan ini kualami. Karena To All the Boys I've Loved Before mengingatkanku lagi akan bagaimana rasanya jatuh cinta kepada sebuah buku. 

5 bintang untuk To All the Boys I've Loved Before by Jenny Han. 

Aku merekomendasikan buku ini kepada kalian semua. Kurasa buku ini pantas untuk masuk ke dalam daftar bacaan semua orang. Terutama kalian penggemar setia kisah-kisah young adult yang manis dan meninggalkan kesan yang dalam... 

Happy Reading~^^