My Latest Video on Youtube!

                                                                                                        Check Out My Latest Video on Youtube!

                                                                      
Showing posts with label Terjemahan. Show all posts
Showing posts with label Terjemahan. Show all posts

Saturday, June 4, 2016

[EARLY BOOK REVIEW] The Lunar Chronicles: Cress by Marissa Meyer


576 halaman
Penerbit Spring, 2016
Paperback Edition 
115.000 IDR

"Scarlet ini... kau jatuh cinta kepadanya, ya?"
"Dia Alfa-ku,"
"Seperti bintang?"
"Bintang apa?" 
"Oh. Eh. Dalam konstelasi bintang, bintang paling terang disebut alfa. Kupikir, mungkin maksudmu dia adalah... seperti... bintangmu yang paling terang." 
"Ya. Tepat seperti itu." 
-Cress & Wolf, halaman 460


"Tapi, kupikir kau benar juga. Mungkin tidak ada yang namanya takdir. Mungkin itu hanyalah kesempatan yang diberikan, dan apa yang kita lakukan dengan kesempatan itu. Aku mulai berpikir bahwa mungkin romansa yang epik dan hebat tidak terjadi begitu saja. Kita harus membuatnya sendiri." 
-Cress, halaman 564

SINOPSIS

Cinder dan Kapten Thorne masih buron. Scarlet dan Wolf bergabung dalam rombongan kecil mereka, berencana untuk menggulingkan Levana dari takhtanya. 

Merek mengharapkan bantuan dari seorang gadis bernama Cress. Gadis itu dipenjara di sebuah satelit sejak kecil, hanya ditemani oleh beberapa netscreen yang menjadikannya peretas andal. Namun kenyataannya, Cress menerima perintah dari Levana untuk melacak Cinder, dan Cress bisa menemukan mereka dengan mudah. 

Sementara itu di Bumi, Levana tidak akan membiarkan siapa pun menganggu pernikahannya, dengan Kaisar Kai. 

------------------------------------------------------------------------------------

Reaksiku ketika membaca lembar pertama Cress: 


Aku sangat sangat teramat sangat menyukai Scarlet. Scarlet benar-benar mengubah pandanganku terhadap seri The Lunar Chronicles. Dan oleh sebab itu, Cress adalah salah satu judul yang paling kutunggu-tunggu kehadirannya. Satu-satunya hal yang kupikirkan ketika mulai membaca Cress adalah bagaimana cara untuk menahan diri agar buku ini tidak selesai kubaca hanya dalam satu hari (serius). Aku membatasi diri dengan hanya membaca beberapa halaman saja setiap harinya. Aku hanya tidak ingin buku ini segera selesai kubaca. Aku sangat mencintai dunia The Lunar Chronicles dan tidak ingin berhenti terhanyut di dalamnya! 

Friday, February 12, 2016

[EARLY BOOK REVIEW] The Lunar Chronicles #2: Scarlet by Marissa Meyer

444 halaman
Penerbit Spring, 2016
Indonesian Version

"Jangan berterima kasih kepadaku karena mengatakan yang sebenarnya padahal aku bisa berbaik hati dengan berbohong kepadamu." 
-Wolf, hal. 259

"Kalau aku mencoba melindungimu, itu bukan merupakan sebuah kebodohan. Tapi menjadi sebuah kebodohan kalau aku hampir percaya tindakan itu akan membuat perbedaan."
-Wolf, hal. 266

"Aku menghargai semua yang kau berikan kepadaku. Meskipun aku tidak pantas mendapatkan itu semua." 
-Wolf, hal. 431

"Aku tahu mereka akan membunuhku kalau mereka tahu, tapi... Aku kira aku sadar lebih baik aku mati karena mengkhianati mereka, daripada hidup karena aku mengkhianatimu."
-Wolf, hal. 432

SINOPSIS

Nenek Scarlet Benoit, Michelle Benoit, menghilang. Bahkan kepolisian berhenti mencarinya dan menganggap wanita itu melarikan diri atau bunuh diri.
Marah dengan keputusan dari pihak kepolisian, Scarlet membulatkan tekad untuk mencari neneknya bersama dengan seorang pemuda petarung jalanan bernama Wolf, yang kelihatannya menyimpan informasi tentang hilangnya nenek Scarlet. 
Apakah benar Wolf bisa dipercaya? Rahasia apa yang disimpan Michelle Benoit sampai dia harus menghilang? 

Di belahan bumi yang lain, status Cinder berubah dari mekanik ternama menjadi buronan yang paling diinginkan di seluruh penjuru Persemakmuran Timur. Dapatkah Cinder sekali lagi menyelamatkan Pangeran Kai dan bumi dari Levana? 


------------------------------------------------------------------------------------

Scarlet adalah buku ke-2 dari seri The Lunar Chronicles. Sama seperti Cinder, Scarlet juga merupakan penceritaan ulang dari sebuah cerita klasik karya Grimm Bersaudara. Dan kali ini, dongeng yang diolah kembali oleh Marissa Meyer adalah 'Gadis Berkerudung Merah'. Ada banyak sekali hal yang membedakan 'Scarlet' dengan 'Gadis Berkerudung Merah', terutama dari segi karakterisasi tokoh-tokoh di dalamnya. Aku tidak dapat memikirkan kata lain yang dapat menggambarkan Scarlet dengan tepat selain kata 'badass'. :)

Selain menceritakan perjalanan Scarlet dan Wolf dalam usaha menemukan nenek Scarlet, buku ini juga menceritakan kelanjutan dari kisah Cinder yang benar-benar merupakan sambungan dari buku pertama, tanpa diputus sedikitpun. Oleh sebab itu, kisah di dalam buku ini diceritakan dari berbagai sudut pandang walau kebanyakan merupakan sudut pandang Scarlet dan Cinder.

Monday, January 25, 2016

[BOOK REVIEW] Attachments by Rainbow Rowell

436 halaman
Penerbit Spring, 2015
Paperback-Indonesian Edition
IDR 76.000

"Bersyukurlah, Lincoln. Uang adalah benda yang kejam. Benda itu menghalangimu dari barang-barang yang kau inginkan dan orang-orang yang kau cintai."
-Lincoln's Mom, hal. 48

"Kau mengatakan seolah-olah itu adalah sesuatu yang terjadi begitu saja padamu, seolah-olah kau sama sekali tidak ikut andil di dalamnya. Kau membuat perselingkuhan terdengar seperti sebuah lubang di tepi jalan. Kau punya pilihan."
-Lincoln, hal. 191

"Tetap saja romantis, jatuh cinta dengan seseorang karena siapa dirinya, apa yang dikatakannya, dan apa yang diyakininya. Itu sebenarnya jauh lebih romantis dari perasaan suka gadis itu kepadamu yang hampir sepenuhnya berdasarkan penampilan fisik."
-Christine, hal. 239

SINOPSIS

Lincoln masih belum percaya bahwa pekerjaannya sekarang adalah membaca E-mail orang lain. Saat ia melamar pekerjaaan sebagai petugas keamanan Internet, pemuda itu mengira ia akan membangun firewall dan melawan hacker, bukannya memberi peringatan pada karyawan yang mengirim E-mail berisi lelucon jorok seperti sekarang. 

Beth dan Jennifer tahu bahwa ada seseorang di kantor yang memonitor E-mail mereka. Hal itu adalah kebijakan kantor. Namun, mereka tidak menganggapnya serius. Mereka bertukar E-mail tentang hal-hal paling pribadi.

Saat Lincoln menemukan E-mail Beth dan Jennifer, pemuda itu tahu ia harus melaporkan mereka berdua. Namun ia tidak bisa. E-mail mereka terlalu menarik untuk dilewatkan. 

Hanya saja. saat Lincoln sadar ia mulai jatuh hati pada salah satunya, sudah terlalu terlambat untuk memulai perkenalan.

Lagi pula, apa yang bisa ia katakan...?

------------------------------------------------------------------------------------

Attachment adalah salah satu kisah yang membuatmu merasa bahwa 'setiap orang punya cerita', sebuah cerita yang menarik tentang diri mereka. Bahwa kau tidak perlu menjadi seorang superhero atau keluarga kerajaan untuk memiliki sebuah kisah menarik bak dongeng. Attachment begitu membumi, dekat dengan pembaca. Kisah seperti Attachment-lah yang membuatku penasaran dengan orang-orang di sekitarku, dengan cerita yang dimiliki oleh tiap-tiap mereka. 

Attachment mungkin adalah kisah paling 'dekat dengan kehidupan nyata' dari semua kisah yang pernah kubaca. Tidak ada drama yang berlebih, reaksi konyol, atau kalimat-kalimat cheesy ala prince charming. Semua berjalan dengan sewajarnya dan terasa begitu nyata. 

Sunday, January 10, 2016

[BOOK REVIEW] The Martian by Andy Weir

528 halaman
Gramedia Pustaka Utama, 2015
Paperback-Indonesian Edition
IDR 99.500

SINOPSIS

Enam hari yang lalu, astronaut Mark Watney menjadi salah satu orang pertama yang menjejakkan kaki di Mars. Sekarang dia yakin akan menjadi yang pertama mati di sana.

Mark ditinggalkan di Mars oleh rekan-rekannya, yang mengira dia tewas ketika terjadi badai pasir. Sekarang dia sendirian, tak punya sarana untuk mengirim sinyal ke Bumi, dan persediaan makanannya sudah pasti akan habis lama sebelum tim penyelamat bisa datang.

Tapi Mark belum mau menyerah. Berbekal keterampilan teknis dan kreativitasnya—plus rasa humor yang terbukti menjadi sumber kekuatan terbesarnya—dia memulai misi untuk bertahan hidup, menanam kentang untuk dimakan, dan bahkan menyusun rencana edan untuk menghubungi NASA di Bumi.

Rintangan demi rintangan berhasil diatasinya, dan Mark mulai yakin dia bisa keluar dari Mars hidup-hidup—tetapi planet ini ternyata menyimpan banyak kejutan untuknya.

------------------------------------------------------------------------------------

The Martian adalah cerita mengenai sebuah perjuangan untuk bertahan hidup dan melawan keputusasaan. Mark Watney yang terdampar di Mars harus bertahan hidup tanpa kepastian akan kemungkinan untuk kembali ke Bumi. Dapatkah kalian membayangkan bagaimana rasanya? Mencoba untuk bertahan sambil menghitung hari, mengetahui dengan pasti berapa banyak sisa hari yang kalian miliki, dan tanpa kepastian akankah kalian dapat bertahan hingga hari tersebut. 

Membaca The Martian adalah sebuah petualangan yang menyenangkan. Seakan membaca buku panduan 'bagaimana cara untuk bertahan di Mars' karena setiap penjelasan di dalamnya begitu mendetail. Andy Weir pasti merupakan seorang jenius atau pekerja keras. Ia benar-benar mengerti secara detail dan menyeluruh apa yang ia tulis. Riset yang ia lakukan tidak main-main. Semua yang ia tulis dapat dipertanggungjawabkan dan brilian. 

Tuesday, December 22, 2015

[EARLY BOOK REVIEW] The Lunar Chronicles #1: Cinder by Marissa Meyer


373 halaman
Penerbit Spring, 2016
Indonesian Version

"Akan lebih mudah menyuruh orang lain untuk menganggapmu cantik kalau kau bisa meyakinkan dirimu sendiri bahwa kau memang cantik. Tapi, cermin memiliki cara yang luar biasa untuk mengatakan yang sebenarnya.”
-Dr. Erland, hal. 168

Cinder, buku pertama dari The Lunar Chronicles mengambil setting waktu pada era setelah perang dunia keempat. Di era tersebut, android dan manusia hidup saling berdampingan satu sama lain. Bumi hanya dibagi menjadi enam negara yaitu Kerajaan Inggris, Uni Afrika, Federasi Eropa, Republik Amerika, Australia, dan Persemakmuran Timur. 

Linh Cinder adalah seorang mekanik handal di daerah New Beijing, Persemakmuran Timur. Ia tinggal bersama dengan ibu tirinya, Adri, serta kedua saudara tirinya, Peony dan Pearl. Ia juga memiliki sebuah android pembantu bernama Iko yang sangat menggemaskan. Sepintas, Cinder terlihat seperti seorang gadis biasa. Tidak banyak yang tahu bahwa ia adalah cyborg, makhluk hidup dengan beberapa bagian tubuh robot. 

Setidaknya, hanya hidup sebagai seorang cyborg mekanik yang perlu Cinder khawatirkan. Hingga hari yang seharusnya berakhir bahagia karena pertemuannya dengan Pangeran Kaito, berbalik arah dan mengubah hidupnya.  

Seperti yang mungkin kalian semua telah ketahui, Cinder adalah penceritaan ulang dari cerita klasik karya Grimm bersaudara yang berjudul Cinderella. Walau ada banyak unsur-unsur utama dari cerita klasik Cinderella yang dipertahankan, banyak juga unsur-unsur baru yang ditambahkan. Seperti dunia futuristik yang tentunya berbeda jauh dengan setting cerita klasik Cinderella, wabah mematikan, dan juga perseteruan antara manusia bumi dengan manusia bulan. Unsur-unsur tambahan tersebut terkadang berhasil membuatku lupa bahwa Cinder adalah penceritaan ulang dari Cinderella. Sehingga aku dapat mengatakan bahwa Cinder bukanlah sekedar penceritaan ulang dari sebuah dongeng klasik, Cinder berbeda.

Selain memiliki konflik tambahan, Cinder juga memiliki karakter-karakter tambahan. Dan anehnya, karakter-karakter tambahan itulah yang malah membuatku jatuh cinta terhadap buku ini. Bukan karakter utama seperti Cinder atau Pangeran Kaito, melainkan tokoh pembantu seperti Iko atau Dr. Erland.

Tuesday, November 10, 2015

[BOOK REVIEW] We Were Liars by E. Lockhart

242 halaman
Delacorte Press, 2014
eBook

SINOPSIS

A beautiful and distinguished family.
A private island.
A brilliant, damaged girl; a passionate, political boy.
A group of four friends—the Liars—whose friendship turns destructive.
A revolution. An accident. A secret.
Lies upon lies.
True love.
The truth.

We Were Liars is a modern, sophisticated suspense novel from National Book Award finalist and Printz Award honoree E. Lockhart. 

Read it.
And if anyone asks you how it ends, just LIE.

------------------------------------------------------------------------------------

Awalnya aku tertarik untuk membaca buku ini karena sedang melihat-lihat daftar pemenang Goodreads Choice Awards 2014. Buku ini merupakan pemenang 2014 Best Young Adult. Harapan pun mulai terbentuk sementara aku membaca sinopsis dari buku ini. Dan dengan satu kalimat terakhir dari sinopsisnya, ‘Read it. And if anyone asks you how it ends, just LIE.’ Ditambah dengan reaksi teman-temanku yang memuji ending dari buku ini, aku pun memutuskan untuk membacanya.

We were Liars bercerita mengenai ‘Liars’, kumpulan 4 orang remaja yang memiliki hubungan dengan keluarga Sinclair. Liars terdiri dari Cadence, Mirren, dan Johnny yang merupakan cucu dari kakek Harris Sinclair. Serta Gat yang merupakan ‘orang asing’ di Pulau Beechwood, pulau pribadi milik keluarga Sinclair. Liars selalu menghabiskan musim panas mereka di Pulau Beechwood. Semua berjalan dengan normal sebelum sebuah 'kecelakaan' menimpa Cadence Sinclair...

Aku sempat kaget dan sedikit bingung karena banyaknya karakter yang bermunculan di bagian awal cerita. Bab kedua mengenalkan kita pada Cadence Sinclair, tokoh utama dari cerita ini serta pemilik sudut pandang yang dipergunakan dalam cerita. Disusul dengan bab ketiga yang mengenalkan kita dengan Penny, Carrie, dan Bess bersaudara. Lalu kepalaku mulai sakit dan kesulitan untuk mencerna ketika bab empat menampilkan Johnny, Mirren, dan Gat. Aku tidak mampu memahami siapa Johnny, siapa Mirren, dan siapa Gat. Belum lagi ditambah dengan Ed dan Granny Tipper. Aku benar-benar tidak mengerti hubungan antar setiap karakter.

Monday, November 9, 2015

[BLOGTOUR/BOOK REVIEW] P.S. I Still Love You by Jenny Han

 356 Halaman
Spring, 2015
Paperback Edition

Pertama-tama, aku ingin mengucapkan terimakasih kepada Penerbit Spring yang sudah memberikan kesempatan bagiku untuk menjadi salah satu host blog tour P.S. I Still Love You. Terutama karena blog Nocturnal Catfish masih baru dan bahkan belum mempunyai banyak pengikut. 

Sedikit mengingatkan, P.S. I Still Love You adalah sekuel dari To All the Boys I've Loved Before yang review-nya dapat kalian baca di sini

Dan juga, aku ingin mengumumkan bahwa giveaway berhadiah dua buah P.S. I Still Love You untuk dua orang pemenang sudah dimulai di sini


Belakangan sedang keranjingan memotret cantik buku-buku. :D

Mungkin segala yang teramat sangat menyenangkan tidak ditakdirkan untuk berlangsung terlalu lama. Mungkin itulah yang menjadikannya jauh lebih manis, karena sifatnya hanya sementara. 
-Lara Jean, hal. 270

Kalau kau kehilangan seseorang dan rasanya masih menyakitkan, saat itulah kau tahu cinta kalian nyata.
 -Mrs. Rothschild, hal. 321

Banyak orang yang keluar masuk di hidupmu. Untuk satu masa, mereka adalah duniamu, mereka segalanya. Lalu suatu hari mereka bukan lagi apa-apa bagimu. Kau tidak bisa tahu seberapa lama mereka akan berada di dekatmu.
-Lara Jean, hal. 347

SINOPSIS 

Lara Jean tidak mengira akan benar-benar jatuh cinta pada Peter. 

Dia dan Peter tadinya hanya berpura-pura. Tapi tiba-tiba saja mereka tidak lagi pura-pura. Sekarang, Lara Jean tambah bingung dengan perasaannya dan juga dengan situasi yang dia hadapi. 

Saat seorang pemuda dari masa lalunya tiba-tiba kembali ke dalam kehidupannya, percikan yang pernah dia rasakan pun kembali. Bisakah seorang gadis jatuh cinta pada dua pemuda sekaligus? 

Buku ini adalah sekuel dari To All the Boys I've Loved Before, tempat kita bisa merasakan cinta pertama lewat Lara Jean.

Cinta tidak pernah mudah, tapi mungkin itulah yang membuatnya luar biasa. 

------------------------------------------------------------------------------------

P.S I Still Love You bercerita mengenai suka dan duka dalam menjalani sebuah hubungan. Secara keseluruhan, aku merasa baik cerita maupun karakter-karakter di dalam buku ini mengalami pendewasaan dibandingkan dengan buku sebelumnya. Jika To All the Boys I've Loved Before menceritakan manisnya cinta dan hubungan malu-malu kucing khas remaja. Maka P.S. I Still Love You menegaskan bahwa dalam menjalin sebuah hubungan, akan ada saat dimana hubungan kita akan diuji. Dan bertahan atau tidaknya hubungan tersebut ditentukan oleh rasa percaya, baik pada partner kita maupun pada diri sendiri. 

Sunday, November 8, 2015

[BOOK REVIEW] To All the Boys I've Loved Before by Jenny Han

380 halaman
Spring, 2015
Paperback Edition


Ketika seseorang sudah pergi untuk waktu yang lama, awalnya kau berusaha mengumpulkan segala hal yang ingin kau bicarakan dengan mereka. Kau berusaha mencatatnya di kepalamu. Rasanya seperti berusaha memegang segenggam sepenuh pasir, sedikit demi sedikit butiran kecilnya mulai terlepas dari genggamanmu, dan setelah itu kau hanya menggenggam udara dan debu. Itulah alasan kenapa kau tidak bisa mengumpulkannya sekaligus seperti itu. 
Ketika akhirnya bertemu kembali, kau hanya akan membicarakan hal-hal besar, karena membicarakan hal-hal kecil terlalu merepotkan. Padahal hal-hal kecil adalah pelengkap kehidupan.
-Lara Jean, hal. 314

Lara Jean menyimpan surat-surat cintanya di sebuah kotak topi pemberian ibunya.

Surat-surat itu bukan surat cinta yang ditujukan untuknya, tapi surat yang ia tulis. Ada satu surat untuk setiap cowok yang pernah ia cintai, totalnya ada lima pucuk surat. Setiap kali menulis, ia mencurahkan semua perasaannya. Ia menulis seolah-olah mereka tidak akan pernah membacanya karena surat itu memang hanya untuk dirinya sendiri.

Sampai suatu hari, semua surat-surat rahasianya itu tanpa sengaja terkirimkan, entah oleh siapa.
Saat itu juga, kehidupan cinta Lara Jean yang awalnya biasa-biasa saja menjadi tak terkendali. Kekacauan itu melibatkan semua cowok yang pernah ia tulis di surat cintanya, termasuk cinta pertamanya, pacar kakaknya, dan cowok terkeren di sekolah.

Pertama-tama, aku sangat menyesal karena telah menunda membaca buku ini. Jika kalian berteman denganku di Goodreads, kalian akan tahu bahwa buku ini sudah masuk ke dalam rak 'currently-reading' sejak Mei dan baru kuselesaikan di bulan November.

Aku ingat waktu itu aku langsung memesan buku ini tanpa pikir panjang karena blurb-nya yang sangat menarik. Surat cinta yang tidak sengaja terkirim? Wow! What a mess! Aku sangat bersemangat ketika baru mulai membaca. Namun sayangnya semangat itu langsung padam hanya dengan membaca beberapa halaman awal. Aku bosan. Aku bukan tipe orang yang menyukai alur cerita yang lambat. Aku menyukai cerita yang langsung masuk ke inti masalah tanpa basa-basi terlebih dahulu. Dan To All the Boys I've Loved Before adalah tipe buku beralur lambat serta berputar-putar terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam inti masalah. 

Aku sampai bertanya pada temanku, kapan masalah di dalam blurb akan muncul? Karena aku sudah nyaris kehilangan kesabaran hanya dengan membaca kehidupan sehari-hari Lara Jean. Aku merasa tertipu karena masalah yang dimunculkan bukan masalah yang ditulis di dalam blurb. Jadi setelah tiba pada halaman 64 (ya, aku ingat jelas halamannya) dan premis yang dituliskan di dalam blurb muncul, aku sudah terlalu lelah menunggu hingga kehilangan minat dan akhirnya meletakkannya begitu saja. 

Jujur saja, aku baru mulai membaca setelah terpilih menjadi host blogtour dari P.S. I Still Love You, sekuel dari buku ini. Awal membaca pun, aku merasa terbebani dan tidak memiliki sedikitpun harapan pada buku ini. Dan aku tidak pernah sebodoh ini dalam menilai sebuah buku, sungguh. Aku sangat sangat sangat sangat sangat sangat bodoh karena sudah memutuskan terlebih dahulu sebelum selesai membaca. Dalam beberapa lembar setelah aku melanjutkan membaca dari halaman 64, aku sudah jatuh cinta pada buku ini. Tidak, aku jatuh cinta pada karakter Peter Kavinsky. 

Aku menyesalinya. Aku sangat menyesal karena telah menelantarkan buku ini dari bulan Mei dan baru membacanya sekarang...

Karena sekarang, setelah aku selesai membacanya, aku dibuat jatuh cinta oleh Lara Jean dan Peter. Bagaimana mungkin aku dapat menolak pesona kisah manis pasangan ini? Buku ini adalah gambaran dari kisah manis yang pas. Buku ini dapat membuatmu kembali merasakan manisnya jatuh cinta. Buku ini dapat membuatmu tersenyum sendiri sembari membacanya! (Aku tidak dapat berhenti tersenyum ketika membacanya di kelas, dan itu sangat memalukan). Buku ini membuatku jatuh cinta. Sungguh, buku ini membuatku merasakan jatuh cinta sekali lagi. 

Sudah lama aku tidak membaca buku yang mampu mengikatku secara emosional. Dan Oh Tuhan, buku ini TERAMAT SANGAT MAMPU mengikatku secara emosional. Buku ini benar-benar membuatku tergila-gila akan Peter dan bersedia melakukan apapun seandainya dapat menjadi Lara Jean walau hanya untuk sehari. 

Dan aku sangat menyukai bagaimana Jenny Han membuat karakter Peter bukan sebagai cowok so-called-perfect tanpa kekurangan sedikitpun. Kalian tentu tahu, bukan? Tipe cowo-cowo stereotipe yang baik pada semua orang, tampan, gentleman, tahu bagaimana cara memperlakukan seorang gadis, dan lain sebagainya. Jenny Han menyisipkan sifat-sifat negatif Peter! Dan hal itu kerap muncul di dalam cerita. Anehnya, sifat-sifat negatif Peter malah membuatku jatuh cinta lebih dalam lagi padanya. Hal itu malah membuatnya menjadi karakter nyata yang tampaknya dapat kuraih. 

Dengan ini, aku mendeklarasikan bahwa ini adalah pertama kalinya aku jatuh cinta dengan tokoh di dalam sebuah novel. :") #MyFirstFictionalCharacterCrush 

Karakter Lara Jean pun sangat menarik dan mudah untuk dicintai. Ia adalah gadis polos dengan sifat kekeluargaan yang kuat. Melihat hubungan antara Lara Jean dengan kakak perempuan, adik perempuan, dan ayahnya juga sangat menyenangkan. Tak kalah menarik dari melihat hubungan antara Lara Jean dan Peter. 

Satu lagi pesona dari To All the Boys I've Loved Before yang sangat kukagumi adalah bagaimana ia mampu menampilkan sebuah kisah cinta yang truly sweetinnocent. Jika banyak sekali YA lain yang memasukkan adegan seks ke dalam bukunya, di sini tidak ada satupun adegan seks. Cerita ini murni terasa manis. Sangat manis hingga rasanya aku ingin membacanya lagi dan lagi untuk berulang kali merasakan perasaan itu. Aku ingin jatuh cinta layaknya Lara dan Peter! 

Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Jenny Han karena telah membiarkanku merasakan perasaan 'itu' sekali lagi. Perasaan dimana aku sangat terikat pada sebuah buku dan benar-benar mencintai setiap detail darinya (kecuali 64 halaman awal, maaf.) Perasaan dimana aku dapat dibuat jatuh cinta dengan seseorang yang hanya aku kenal lewat kata dan kalimat. Aku benar-benar tidak menyangka akan mampu merasakan perasaan seperti itu lagi. Perasaan seperti ini adalah alasan aku membaca buku. Dan kurasa, buku ini benar-benar telah menyelamatkanku dari reading slump yang belakangan ini kualami. Karena To All the Boys I've Loved Before mengingatkanku lagi akan bagaimana rasanya jatuh cinta kepada sebuah buku. 

5 bintang untuk To All the Boys I've Loved Before by Jenny Han. 

Aku merekomendasikan buku ini kepada kalian semua. Kurasa buku ini pantas untuk masuk ke dalam daftar bacaan semua orang. Terutama kalian penggemar setia kisah-kisah young adult yang manis dan meninggalkan kesan yang dalam... 

Happy Reading~^^

Monday, September 28, 2015

[BOOK REVIEW] Shatter Me by Tahereh Mafi

338 Halaman
Harper Collins, 2011
Ebook - English Version
Bacaan bulanan Klub Baca Quirky Reads, Agustus 2015.

SINOPSIS

I have a curse
I have a gift


I am a monster

I'm more than human


My touch is lethal

My touch is power


I am their weapon

I will fight back


Juliette hasn’t touched anyone in exactly 264 days.



The last time she did, it was an accident, but The Reestablishment locked her up for murder. No one knows why Juliette’s touch is fatal. As long as she doesn’t hurt anyone else, no one really cares. The world is too busy crumbling to pieces to pay attention to a 17-year-old girl. Diseases are destroying the population, food is hard to find, birds don’t fly anymore, and the clouds are the wrong color.



The Reestablishment said their way was the only way to fix things, so they threw Juliette in a cell. Now so many people are dead that the survivors are whispering war – and The Reestablishment has changed its mind. Maybe Juliette is more than a tortured soul stuffed into a poisonous body. Maybe she’s exactly what they need right now.



Juliette has to make a choice: Be a weapon. Or be a warrior.


------------------------------------------------------------------------------------

Jika biasanya aku menyertakan beberapa quote atau monolog indah yang menarik perhatian di review-ku, kali ini aku tidak dapat menyertakannya. Mengapa? Karena aku sudah selesai membaca buku ini sekitar bulan lalu namun terus menunda untuk mengulasnya baik di blog maupun di channel youtube-ku. Jadi bisa dibilang aku sudah lupa beberapa monolog yang cukup menarik perhatian, walau kurasa tidak ada yang benar-benar menarik perhatianku. 

Pertama-tama, sebenarnya premis yang diangkat kurasa cukup menarik. Kehidupan seorang gadis yang terisolasi dari lingkungannya karena ia memiliki kekuatan untuk menghancurkan semua yang disentuhnya. Serta dunia yang sudah diambang kehancuran karena dikuasai oleh gerakan 'Reestablishment'. Namun sayangnya saat aku mulai membaca, aku merasa tidak terkesima dengan premis tersebut. Entahlah, mungkin karena aku juga sudah beberapa kali melihat gadis berkekuatan serupa di film-film lain. Seperti di salah satu episode Supernatural dimana ada gadis yang dapat menghentikan jantung orang yang disentuhnya. Dan juga bagaimana belakangan ini seluruh novel yang sedang 'in' adalah novel bergenre serupa, post-apocalyptic. 

Saturday, September 5, 2015

[BOOK REVIEW] For One More Day by Mitch Albom


248 halaman
Gramedia Pustaka Utama, 2008
Paperback Edition - Indonesian Version


Ibu memandangku sekilas. "Ingat Charley. Terkadang, anak-anak ingin kau terluka sebagaimana dia terluka."
Terluka sebagaimana dia terluka? Apakah itu yang pernah kulakukan? Apakah aku ingin melihat di wajah ibuku penolakan yang kuterima dari ayahku? Apakah anakku melakukan hal yang sama terhadapku?
"Aku tidak punya maksud apa-apa dengan berbuat begitu, Bu," bisikku.
"Dengan berbuat apa?"
"Merasa malu. Karena Ibu, atau pakaianmu atau... keadaan-mu."
Ibu membersihkan sampo dari tangannya, lalu mengarahkan kucuran air ke kepala Rose.
"Anak yang merasa malu karena ibunya," katanya, "hanya anak yang belum terlalu lama menjalani hidup."
(hal. 111)

SINOPSIS 

Ketika masih kecil, Charley Benetto diminta untuk memilih oleh ayahnya, hendak menjadi "anak mama atau anak papa, tapi tidak bisa dua-duanya." Maka dia memilih ayahnya, memujanya. Namun sang ayah pergi begitu saja ketika Charley menjelang remaja. Dan Charley dibesarkan oleh ibunya seorang diri, Meski sering kali dia merasa malu akan keadaan ibunya serta merindukan keluarga yang utuh.

Bertahun-tahun kemudian, ketika hidupnya hancur oleh minuman keras dan penyesalan, Charley berniat bunuh diri. Tapi gagal, dan justru dibawa kembali ke rumahnya yang lama dan menemukan hal yang mengejutkan. Ibunya yang telah meninggal delapan tahun silam, masih tinggal di sana dan menyambut kepulangannya seolah tak pernah terjadi apa-apa...

------------------------------------------------------------------------------------

Cuplikan adegan yang kusisipkan sebelum sinopsis adalah adegan favoritku dari keseluruhan cerita. Awalnya aku membaca cerita ini dengan perasaan datar, tanpa ekspektasi, dan juga tanpa kekaguman. Biasa saja. Tapi setelah peristiwa demi peristiwa masa kecil Charley terungkap, aku mulai dapat terhubung dengan karakter-karakter yang ada di dalamnya. Terutama Charley dan ibunya, tentunya. Dan ketika sampai di pertengahan cerita, aku tanpa sadar telah terbawa oleh arus cerita tersebut. Aku benar-benar mampu merasakan perasaan karakter di dalamnya. Dan, halaman 111 adalah puncak dimana aku benar-benar mengalami yang dinamakan 'sesak napas' ketika membacanya. Seluruh emosi dari kejadian-kejadian di masa kecil Charley sebelum halaman itu menumpuk dan akhirnya meledak ketika aku membaca halaman tersebut.