242 halaman
Prisca Primasari, 2016
Paperback Edition
"Betapa ironis fakta bahwa seorang pria, sekuat apapun dirinya, bisa remuk gara-gara wanita. Wanita sanggup menghancurkan; wanita pun mampu membangkitkan."
-Frea Rinata, hal. 57
"Aku berharap bisa menunjukkan hal-hal indah lain pada Liquor, suatu saat nanti. Sampai sekarang aku masih memikirkan apa tepatnya itu. Dan tidak pernah berhenti memikirkannya."
-Frea Rinata, hal. 63
"Senyum paling menyakitkan adalah senyum penuh kepedihan."
-Frea Rinata, hal. 67
"Neraka ada tujuh lapis, dan penghuni lapisan ketujuh tidak akan pernah bisa naik surga. Sementara penghuni lapisan pertama sampai keenam masih punya kesempatan."
-Night & Liquor, hal. 156
SINOPSIS
Permasalahan yang dihadapi Frea, Liquor, dan Night semakin rumit saja. Ketiganya harus membenahi kekeliruan yang mereka lakukan, sekaligus bertarung dengan perasaan masing-masing.
Di sisi lain, Frea semakin mengenal Liquor; sedikit demi sedikit. Dia memahami luka pemuda itu, mengetahui masa lalunya, juga terus berusaha mengobati hatinya.
Namun tepat saat Frea menyadari betapa dia mencintai Liquor, sesuatu terjadi. Masalah baru yang luput dari perhitungannya.
------------------------------------------------------------------------------------
Buku ke-2 Love Theft bercerita mengenai kelanjutan kisah Coco Kartikaningtias dengan kalung Tiffany&Co. miliknya yang dicuri oleh Liquor. Jujur, aku tidak menduga ceritanya akan berkembang menjadi seperti ini. Selagi menunggu buku ini terbit, aku membayangkan cerita akan dipenuhi dengan adegan action atau tipu daya. Setelah membaca berlembar-lembar halaman awal pun aku masih yakin bahwa cerita akan dipenuhi adegan action menjelang chapter-chapter akhir. Dan ternyata, aku salah besar. Setelah mencapai pertengahan buku, aku langsung menyadari bahwa 'Ah,.. pada akhirnya memang buku ini lebih menitikberatkan unsur romance.'
Anehnya aku malah suka, walau alurnya tidak sesuai dengan dugaanku. Aku suka bagaimana buku ke-2 Love Theft lebih sentimentil dari buku pertama. Buku ini tidak menitikberatkan pada action, melainkan perkembangan karakter-karakter di dalamnya. Melalui buku ini, kita akan jauh lebih mengerti karakter Liquor, Night, dan juga Frea sendiri. Dan lagi-lagi anehnya, walau di buku pertama aku jauh lebih memilih Liquor daripada Night. Di buku kedua, aku malah lebih tertarik pada Night (maafkan aku, Liquor).


